Skip to main content

Joksan

Kenalkan, saya Joko Sanudin, meski banyak orang lebih akrab menyapa saya JokSan.

Perjalanan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1998, saat saya memutuskan melangkah keluar dari Jawa Tondano untuk bersekolah di Manado. Sejak saat itu, saya belajar bahwa perjalanan bukan hanya tentang pindah tempat, tapi tentang menemukan siapa kita sebenarnya.

Langkah kaki membawa saya mendaki puncak-puncak gunung pada tahun 2003. Awalnya sederhana, saya hanya ingin menyaksikan dari dekat betapa indahnya mahakarya Sang Maha Perkasa. Dari sana, saya mulai mencintai fotografi—berusaha membingkai kemegahan lanskap yang tak terbatas. Namun, seiring waktu, rasa saya pun berevolusi. Saya jatuh cinta pada genre still life, karena bagi saya, still life adalah seni membuat benda mati bicara.

Lewat lensa, saya belajar bahwa dalam diam pun, segalanya punya cerita jika kita mampu bersabar untuk mendengarkan.

Sejak tahun 2007, saya membawa rasa dan ketelitian itu ke dunia profesional sebagai fotografer wedding di Manado. Mengabadikan detail-detail kecil yang sering terlewat, agar mereka tetap abadi dalam bentuk kenangan.

Namun, sejauh apa pun saya melangkah, napas saya tetaplah napas orang Tondano. Terlahir dari empat marga keturunan Sanudin, Mertosono, Thayeb dan Kangiden membuat saya sadar bahwa ada warisan yang harus dijaga. Lewat tulisan-tulisan tentang Jawa Tondano, saya mencoba merawat ingatan agar tradisi kita tidak hilang ditelan era modern. Saya ingin Jaton tetap memiliki jati diri; tetap bertradisi, meski zaman terus berlari.

Karena pada akhirnya, memotret adalah cara saya mengagumi ciptaan-Nya, dan menulis adalah cara saya memastikan sejarah kita tidak pernah kehilangan rumah untuk pulang.

" untuk apa berdebat,
jika akhirnya aku harus mengabulkan
permohonan maafmu "

fotografi

sisi visual beku sang waktu. 

donor darah

dari manusia untuk manusia 

 

2026

JOKO SANUDIN